Danjika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu atas rasa syukurmu itu. Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah tempat kembalimu, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu perbuat. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (hati)mu. - (Q.S Az-Zumar: 7)
Katakanlahkepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Lihat Keseluruhan An-Nur. Cek produk Tokopedia Salam lainnya. Jadwal Sholat. Jadwal sholat untuk wilayah Jakarta & sekitarnya.
Danjanganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. « Al-Baqarah 234 Al-Baqarah 236 » Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah?
SesungguhnyaAllah Maha Luas dalam mencurahkan rahmat kepada hamba-Nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Menurut Imam At Thabbrani, ayat ini turun sebelum ada perintah untuk memindahkan kiblat sholat ke arah Ka'bah. menguasai, dan mengaturnya. Allah mengarahkan hamba-hambaNya menghadap dalam shalat sekehendaknya
Artinya "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Firman Allah lainnya yang menyebut sholat sebagai doa tercantum pada surat Al Ahzab ayat 56
berikut pernyataan yang tepat tentang zakat mal adalah. Pengertian Cinta Allah kepada Hamba-Nya dianalogikan sebagai cinta yang tidak ada tandingannya oleh siapapun yang ada di seluruh alam semesta ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” HR. Bukhari dan Muslim Tentu saja, penjelasan seperti ini tidak serta merta dimaknai dengan pengertian secara dangkal saja. Sebagai hamba yang taat kita semua harus mengetahui siapa Allah sebenarnya. Sehingga kita akan dapat lebih memaknai pencipta kita lebih dalam dan lebih luas. Cinta Allah tentunya sesuatu yang sangat diharapkan oleh semua makhluk hidup yang ada di alam semesta. Seperti Allah berfirman dalam Al-Quran dalam QS. Al-Maaidah 54, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui.” Pengertian Cinta Allah pada Hamba-NyaTanda Cinta Allah pada Hamba-Nya1. Allah Tidak Cepat-Cepat Menurunkan Siksaan Dan Menjaga Aib Hamba-Nya2. Memberikan Ujian atau Musibah3. Menuntun Kita Mendekati Agama4. Terhalang Melakukan Kemaksiatan5. Diberikan Kesabaran6. Mengabulkan Do’a Hamba–Nya Sebelum mendefinisikan lebih luas tentang Allah cinta pada hamba-Nya. Terlebih dahulu kita mengerti hakikat cinta sesuai syariat islam. Cinta adalah perasaan sayang dan memunculkan nikmat bagi yang merasakannya. Dalam pengertian cinta Allah kepada hamba-Nya adalah sesuatu yang agung dan sangat luar biasa. Sebaliknya cinta hamba kepada Rabbnya merupakan nikmat. Hal itu bisa dirasakan bilamana ada suatu ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaatan dan ketaqwaan muncul ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya berupa petunjuk. Petunjuk untuk selalu mematuhi perintah-Nya dan sebisa mungkin menjauhi larangan-Nya. Allah tidak akan membiarkan seorang hambanya terjerumus dan melanggar syariat. Tetapi banyak sekali hamba-hamba yang mencoba mengingkari-Nya. Oleh sebab itu, alangkah baiknya kita sebagai manusia membalas cinta yang Allah berikan dengan balasan cinta yang sesungguhnya. Tanda Cinta Allah pada Hamba-Nya Terkadang tanda Allah cinta pada hambanya memang tidak selalu terlihat menyenangkan bagi hambanya. Bahkan banyak hamba yang merasa tidak adil dengan suatu keadaan yang sedang menimpa dirinya. Padahal jika kita ingin sedikit melunakkan hati dan husnudzon tentu semua hal yang terjadi memang ada campur tangan Allah SWT di dalamnya. Tanda Allah cinta kepada hamba-Nya memang tidak selamanya indah. Hal itu terjadi, karena Allah lah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya yang terkadang kita sebagai manusia tidak menyadari akan hal yang demikian. Untuk membahas tanda cinta Allah pada hamba-Nya, lebih lengkap kita akan menjabarkan beberapa tanda-tanda Allah cinta kepada hamba-Nya sebagai berikut ini. Agar kita sebagai umatnya semakin dekat dengan Allah, antara lain 1. Allah Tidak Cepat-Cepat Menurunkan Siksaan Dan Menjaga Aib Hamba-Nya Sebagai bukti kecintaan Allah terhadap hamba-Nya Allah sengaja menunda siksaan kepada hamba-Nya yang melakukan dosa dan kemaksiatan di dunia. Bahkan Allah juga sengaja menutupi aib seseorang hamba. Hal tersebut bisa kita lihat pada kehidupan kita di dunia. Jika kita dituntut untuk jujur, setiap harinya kita pastinya tidak luput dari dosa atau kekhilafan. Andaikan aib kita tidak dijaga oleh Allah pastilah kehidupan kita di dunia tidak akan tentram. Hal tersebut membuktikan bahwa Allah SWT lah yang memang menutupi aib kita. Sehingga kita bisa tetap menjalani kehidupan tanpa ada rasa malu. Tetapi, sebagai hamba yang taat, sebaiknya kita punya rasa bersalah jika sudah melakukan suatu kesalahan. Kemudian, segera perbaiki kesalahan itu dengan kembali ke jalan yang benar. 2. Memberikan Ujian atau Musibah Di dunia ini ujian yang diberikan oleh Allah itu ada dua. Yang pertama ujian dengan keburukan dan yang kedua dengan kebaikan. Sering kali kita berpikir bahwa ujian dengan keburukan adalah ujian yang diberikan dengan cobaan yang berat yang sulit untuk kita jalani. Tetapi pernahkah kita mencoba merenungi bahwa di balik semua cobaan Allah pada hamba-Nya selalu ada maksud dan hikmah di dalamnya. Allah memberi ujian atau musibah juga karena kita dianggap mampu menjalaninya. Selain itu ujian dalam kebaikan juga sebenarnya sangat sulit dijalani. Misalnya saja, kita dianugerahi kekayaan di dunia yang berlimpah, jika saja kita tidak bisa mengamalkan harta yang Allah titipkan kemudian menjadi kikir atau tamak sungguh kita adalah orang-orang yang merugi. 3. Menuntun Kita Mendekati Agama Adanya kemudahan dalam hal pemahaman mengenai agama akan diberikan oleh Allah melalui petunjuk. Jadi, kita merasa senang dan tenang ketika dekat dengan Allah dan agama islam. Hal tersebut juga salah satu tanda cinta Allah pada hamba-Nya. Petunjuk Allah selalu ada, tinggal kita dituntut agar lebih peka. Karena kehidupan di dunia hanya fana dan sebaik-baiknya tempat kembali adalah kepada pencinta kita, Allah SWT. 4. Terhalang Melakukan Kemaksiatan Allah akan selalu menjaga hamba-Nya dari kemaksiatan dunia. Itu juga tanda-tanda cinta dari Allah kepada hamba-Nya. Allah senantiasa menghalangi maksiat dengan rahmat yang diturunkan kepada hamba-Nya. Sebagai hamba yang taat sekeras mungkin kita juga menjauhi kemaksiatan karena Allah bersama dengan hamba-hamba yang taat. Mungkin, hal itu tidak terasa mudah. Tipsnya adalah mulailah dengan memperbaiki lingkungan dan cara bergaul kita. Selain itu, selalu ingat bahwa Allah mengetahui apapun yang kita lakukan. Sehingga, kita dapat terhindar dari kemaksiatan dunia. Karena banyak orang kerap merasa khilaf karena dalam hatinya tidak pernah terpikir bahwa Allah selalu tahu dengan apa yang mereka perbuat selama ini. 5. Diberikan Kesabaran Bentuk lain tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah dengan kesabaran yang tertanam dalam diri seorang hamba. Kesabaran erat kaitnya dengan tingkat ketakwaan seseorang. Orang yang sabar, akan diridhoi oleh Allah, seperti Allah berfirman dalam QS. Ar Ra’d 2 Dimana orang yang selalu sabar mencari ridho Allah, orang itulah yang nantinya akan mendapatkan hidayah dan kebaikan. Meskipun, kesabaran bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Kesabaran menuntut kita mengolah rasa emosi dan amarah yang sulit untuk dikendalikan. Tetapi percayalah, buah dari kesabaran mengandung hikmah yang sangat manis untuk kita sebagai hamba Allah di dunia. Dengan sabar, maka semua hal yang berkaitan dengan masalah di dunia akan terasa ringan. 6. Mengabulkan Do’a Hamba–Nya Tanda cinta dari Allah SWT selanjutnya adalah Allah pasti mengabulkan doa-doa semua hamba-Nya. Seperti firman Allah dalam QS. Gafir 60. Bahwa umat yang mau berdo’a kepada-Nya, pasti akan dikabulkan permintaannya. Sementara orang yang angkuh dan sombong dan tidak mau meminta, mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka Jahanam dalam kondisi yang hina. Tetapi dalam kenyataan terkadang Allah lama sekali mengabulkan doa kita. Hal itu bukan berarti doa kita ditolak dan tidak akan dikabulkan oleh Allah. Hanya saja, waktunya yang belum pas. Allah mengabulkan doa kita sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena Allah Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka dari itulah, selalu bersabarlah karena cinta Allah kepada hamba-Nya itu tidak ada habisnya.
ALLÂH MAHA MENGETAHUIOleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-AtsariManusia mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna. Dengan memahai nama-nama dan sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , kita akan lebih bisa mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Semua nama Allâh pasti memuat SIFAT ILMU ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat menetapkan sifat ilmu mengetahui bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ini berdasarkan banyak dalil dari kitab suci al-Qur’an, hadits Nabi dan antara ratusan dalil ayat al-Qur’an adalah Bahwa di antara nama-nama Allâh adalah al-Alîm Yang Maha Mengetahui, yang memuat sifat ilmu. Allâh Azza wa Jalla berfirmanتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِDiturunkan Kitab ini Al Qur’an dari Allâh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. [Al-Mukmin/40 2]Demikian pula di antara nama Allâh Azza wa Jalla adalah Allâmul Ghuyûb Yang Maha Mengetahui perkara ghaib, yang memuat sifat ilmu. Allâh Azza wa Jalla berfirmanأَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِTidakkah mereka tahu bahwasanya Allâh mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allâh amat mengetahui segala yang gaib? [At-Taubat/9 78]Dan di antara nama-nama Allâh adalah Âlimul Ghaibi wasy Syahâdah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nampak, juga memuat sifat الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِYang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. [Ar-Ra’du/13 9]Dalil hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam banyak sekali, antara lain hadits berikut iniعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِDari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Kebiasaan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata pada waktu kesusahan, Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Pemilik singgasana yang agung. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Pemilik langit dan bumi, dan Pemilik singgasana yang mulia”. [HR. Al-Bukhâri, no. 6990]Dalil akal bahwa Allâh Azza wa Jalla memiliki ilmu adalah bahwa Allâh itu Pencipta, sedangkan selain-Nya adalah makhluk. Akal menetapkan bahwa Pencipta pasti mengetahui makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla telah mengisyaratkan hal ini dengan firman-Nyaأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُApakah Allâh Yang menciptakan itu tidak mengetahui yang kamu lahirkan dan rahasiakan; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al-Mulk/67 14]ILMU ALLAH AZALI DAN ABADI Ilmu Allâh itu sempurna, bersifat azali dan abadi. Azali artinya ada semenjak dahulu, sedangkan abadi artinya selalu ada pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu ilmu Allâh Azza wa Jalla tidak didahului dengan ketidaktahuan, dan tidak disusul dengan lupa, sebagaimana Nabi Musa Alaihissalam berkata kepada Fir’aunقَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَىMusa menjawab, “Pengetahuan tentang keadaan umat-umat yang dahulu itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak pula lupa”. [Thaha/20 52]Berbeda dengan ilmu pengetahuan makhluk yang didahului dengan ketidaktahuan, dan tidak disusul dengan lupa.” [Syarah Aqîdah Wasîthiyah, 1/194]ALLAH MENGETAHUI SEGALA SESUATU Allâh Azza wa Jalla memberitakan dalam beberapa ayat bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Allâh Azza wa Jalla berfirmanهُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌDia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah/2 29]Allâh Azza wa Jalla juga berfirmanبَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌDia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. [Al-An’am/6 101]Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah saat menjelaskan ayat yang artinya, “Dia mengetahui segala sesuatu”, beliau mengatakan bahwa ini termasuk bentuk umum yang tidak ada pengecualian selamanya. Keumuman ilmu Allâh ini mencakup ilmu terhadap perbuatan-Nya, perbuatan para hamba-Nya, baik secara global maupun rinci. Allâh Azza wa Jalla mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencakup sesuatu yang wajib ada, sesuatu yang mungkin ada, dan sesuatu yang mustahil ada. Sehingga ilmu Allâh luas, mencakup, dan meliputi segala sesuatu tanpa Ilmu Allâh terhadap sesuatu yang wajib ada, seperti ilmu-Nya pengetahuan-Nya terhadap diri-Nya, dan terhadap semua sifat-Nya yang maha Ilmu Allâh terhadap sesuatu yang mustahil ada, seperti firman Allâh Azza wa Jalla لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allâh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. [Al-Anbiya’/21 22]Demikian juga firmanNyaإِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَاباً وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allâh sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. [Al-Hajj/22 73]3. Ilmu Allâh terhadap sesuatu yang mungkin ada, adalah semua makhluk yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala beritakan, itu termasuk sesuatu yang mungkin. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanوَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَDan Allâh mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. [An-Nahl/16 19]Dengan demikian, ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu”. [Syarah Aqîdah Wasîthiyah, 1/184]Tidak ada apapun yang lepas dari ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi segala sesuatu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanوَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata Lohmahfuz. [Al-An’am/6 59]DAMPAK DARI MENGIMANI BAHWA ALLAH MAHA MENGETAHUI Banyak sekali dampak keimanan manusia kepada ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkataوالثمرة التي ينتجها الإيمان بأن الله بكل شيء عليم كمال مراقبة الله عز وجل وخشيته، بحيث لا يفقده حيث أمره، ولا يراه حيث yang dihasilkan oleh keimanan bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu adalah kesempurnaan murâqabah pengawasan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan khasy-yah takut kepada-Nya, yang mana Allâh mendapatinya di tempat yang Allâh perintahkan dan Allâh tidak melihatnya di tempat yang Dia larang”. [Syarah Aqîdah Wasîthiyah, 1/184]Kemudian di antara dampak keimanan kepada ilmu Allâh, antara lain adalah1. Mengetahui Kesempurnaan Agama Islam Karena Allâh Maha Mengetahui, sementara agama Islam datang dari sisi-Nya. Maka Islam adalah agama yang sempurna, beritanya benar dan hukum-hukumnya adil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanوَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُTelah sempurnalah kalimat Rabbmu al-Qur’an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-An’am/6 115]Oleh karena itu kita dapatkan banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan hukum syari’at kemudian di akhiri dengan menyebutkan nama Allâh Alîm Maha Mengetahui dan Hakîm Maha Bijaksana. Contohnya adalah firman Allâh Azza wa Jalla إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌSesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allâh dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allâh; dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [At-Taubat/9 60] Kalau syari’at Islam ini datang dari Allâh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, maka tentu kewajiban hamba untuk menerima dengan senang hati seluruh syari’at Islam dan meyakini kebaikannya di atas seluruh peraturan yang Bertawakkal Kepada Allâh Dalam Segala Perkara Karena Allâh Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Kasih Sayang, maka seorang hamba akan mendapatkan ketenanagan dan keyakinan dengan bertawakkal kepada-Nya dalam segala urusan. Termasuk bertawakkal dalam masalah rezeki, karena sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Yang penting adalah berusaha yang halal dan hasilnya disandarkan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanوَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُDan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa mengurus rezekinya sendiri. Allâh-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Ankabut/29 60]3. Faktor Pendorong Taqwa Kepada Allâh Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengawasi semua perbuatan hamba-Nya, maka itu merupakan faktor terbesar yang mendorong seseorang untuk selalu bertaqwa kepada-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanأَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌKetahuilah sesungguhnya kepunyaan Allâh lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya sekarang. Dan mengetahui pula hari manusia dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu. [An-Nûr/24 64]Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirmanوَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِDan ingatlah karunia Allâh kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allâh, sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui isi hati mu. [Al-Mâidah/5 7]4. Faktor Pendorong Ketaan dan Ibadah Kepada Allâh Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengawasi semua perbuatan hamba-Nya, maka itu merupakan faktor terbesar untuk selalu taat kepada-Nya, melaksanakan amal shalih, dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Allâh Azza wa Jalla berfirmanيَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌHai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Mukminun/23 51]Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirmanيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌMereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allâh Maha Mengetahuinya. [Al-Baqarah/2 215]5. Mencegah Maksiat Kepada Allâh Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengawasi semua perbuatan hambaNya, maka itu merupakan faktor terbesar untuk meninggalkan maksiat. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanوَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌDan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allâh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Baqarah/2 283]Sesungguhnya Allâh Mengetahui pandangan mata khianat untuk berbuat maksiat, bahkan isi hati manusia Allâh juga mengetahuinya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirmanيَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُDia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. [Al-Mukmin/40 19]Dengan keterangan ini kita mengetahi bagaimana pengaruh aqidah shahihah yang benar pada perilaku manusia di dunia ini, maka selayaknya kita memperhatikan masalah-masalah aqidah dengan perhatian yang besar, sehingga membawa keselamatan kehidupan dunia dan akhirat kita. Semoga Allâh selalu membimbing kita di dalam kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
ALLAH MAHA MENGETAHUI YANG TERBAIK UNTUK HAMBANYA Oleh Azwir B. Chaniago Dalam menjalani hidup ini, setiap orang cenderung bahkan sangat bersemangat untuk mendapatkan segala sesuatu yang disenangi sesuai anggapannya. Sebaliknya dia berusaha untuk menjauhi atau tidak berharap kepada segala sesuatu yang dia anggap buruk atau tidak akan bermanfaat baginya. Lalu untuk memenuhi keinginannya itu dia berusaha semampunya. Tapi adakalanya dia tidak mendapat apa yang dia senangi bahkan mendapat yang sebaliknya. Cuma saja jika mendapat sesuatu yang tidak disukai, terkadang kita tidak mengetahui bahwa disitu ada hikmah yang sempurna karena hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik dan apa yang tidak baik bagi hamba-hambaNya. Dan Allah Maha Mengetahui pula apa yang paling baik untuk diberikan kepada seorang hamba. Allah berfirman “Wa asaa an takrahuu syai-an, wa huwa khairul lakum. Wa asaa antuhibbuu syai-an wa huwa khairul lakum, wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun”. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, pada hal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, pada hal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. al Baqarah 216. Imam Ibnul Qayyim berkata Bahwa dalam ayat ini terkandung banyak hikmah, rahasia dan kemashlahatan bagi seorang hamba. Diantaranya adalah apabila seorang hamba mengetahui bahwa 1 Sesuatu yang dibencinya terkadang justru mendatangkan sesuatu yang disenanginya, dan 2 Sesuatu yang disenanginya terkadang justru mendatangkan sesuatu yang dibenci. Oleh karena itu seorang hamba haruslah bersikap tidak merasa aman dari bahaya pada saat dianugerahi kebahagiaan dan tidak putus asa untuk mendapat kebahagiaan ketika ditimpa kesulitan. Seorang hamba itu haruslah bersikap demikian karena ia tidak mengetahui kesudahan dibalik semua itu. Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya, sebagaimana juga Dia mengetahui hal hal lainnya yang tidak diketahui oleh hamba-Nya. Kitab Fawaaidul Fawaid. Tentang ayat ini pula, Syaikh Abdurrahman an Nashir as Sa’di berkata Ayat ini adalah umum lagi luas. Bahwa perbuatan perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa manusia karena ada kesulitan padanya itu adalah baik tanpa diragukan lagi. Dan bahwa perbuatan perbuatan buruk yang disenangi oleh jiwa manusia karena apa yang diperkirakan olehnya bahwa padanya terdapat keenakan dan kenikmatan ternyata buruk tanpa diragukan lagi. Lihat Tafsir Karimir Rahman. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan yang terbaik kepada kita semua. Aamiin. Wallahu A’lam. 442
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Dalam pandangan Islam, jual beli merupakan kegiatan muamalah yang menghubungkan antara pihak satu dengan pihak lainnya sesuai dengan akad yang disepakati. Jual beli dalam Islam harus dilandasi oleh nilai-nilai etika yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Dalam kegiatan jual beli sifat yang harus diterapkan yaitu kejujuran, karena kejujuran merupakan kunci utama dalam kesuksesan berdagang. Rasullullah telah mencontohkan untuk senantiasa berperilaku jujur dalam jual beli, sejak usia 12 tahun beliau sudah berdagang bersama pamannya Abu Thalib dari Mekkah hingga ke Syam. Beliau melakukan transaksi dengan jujur, ikhlas, dan adil tanpa membeda-bedakan. Rasalullah SAW tidak pernah berlaku curang maupun berbohong atas barang yang beliau perjualbelikan kepada penjual. Apa yang beliau lakukan sudah sesuai dengan syariat-syariat islam, maka dengan begitu kita patut meneladaninya karena baliau adalah suri tauladan yang baik bagi hambanya. Rasulullah SAW juga melakukan standarisasi dalam timbangan dan melarang untuk berlaku curang dalam itu dengan menerapkan sikap jujur akan menjadikan harta yang berkah sehingga memberikan ketenangan dan kesejahteraan di dunia maupun diakhirat karena sesungguhnya sesuatu yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban. Seperti dalam Al-Isra’/1736 yang berbunyi وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا Artinya “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa sebagian besar rezeki manusia diperoleh dari aktivitas perdagangan. Hal ini disabdakan beliau dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harabi yang artinya “Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupannya, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.” Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa berdagang merupakan salah satu pekerjaan yang mulia, tetapi faktanya masih banyak para pedagang yang melakukan penyimpangan dalam berdagang yang tidak sesuai dengan prinsip Islam. Perilaku menyimpang yang banyak ditemukan antara lain pengurangan timbangan dan hukum jual beli sendiri yaitu boleh jika memang sesuai dengan syarat dan rukunnya dan akan menjadi haram jika transaksi yang dilakukan tidak sesuai dengan syariat Islam. Karena tujuan jual beli merupakan saling tolong menolong, jika nantinya dilakukan dengan adanya penyelewengan maka yang terjadi adalah merugikan orang lain. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara penerapan fiqh muamalah dengan pelaku kecurangan dalam timbangan terjadi karena beberapa faktor, antara lain agar pedagang mendapatkan lebih banyak keuntungan dari mengurangi timbangan tersebut, dikarenakan persediaan barang yang relatif sedikit dibanding dengan permintaan konsumen yang tinggi, dan juga dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman atas pelaku ekonomi terkait larangan dan dampak dari mengurangi timbangan. Mengurangi timbangan sangat dilarang dalam Islam karena dapat merugikan dan memakan hak orang lain. Seperti yang tercantum pada Asy-Syu’ara/26 181-183 yang berbunyi أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ۞وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ۞وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ۞Artinya “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus, dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.”Jangan pernah merasa menjadi sosok yang paling kurang beruntung dalam segi ekonomi, sehingga menyebabkan melakukan kegiatan muamalah dengan cara-cara yang melanggar syariat Islam. Banyak diantara mereka yang masih tidak percaya pada kekuatan kuasa Allah SWT, padahal Allah SWT telah menjamin bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Sesuai dengan Al-Insyirah ayat 5-6, penjelasan tersebut diulang hingga 2 kali sebagai bukti bahwa Allah SWT tidak akan tinggal diam melihat hambanya saat di fase kesulitan. Allah SWT akan memberikan apa yang hambanya butuhkan, bukan yang hambanya inginkan. Jadi jangan merasa paling gagal ketika harapan tidak sesuai kenyataan. Tetaplah junjung sikap jujur dimanapun dan kapanpun, dan teruslah berusaha juga berdoa. Karena pada hakikatnya usaha tidak akan mengkhianati hasil. 1 2 Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai diharapkan, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan berfirmanلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” QS. Al-Balad 4.Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian tanpa disadari hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain, bahkan Allah, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk seperti ini, hendaknya mengingat sebuah firman Allahوَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” QS. Al-Baqarah 216.Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar. Musibah-musibah yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan ayat di atas sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari kita mau kembali melihat lembaran-lembaran sejarah di dalam Al-Qur’an, membuka mata tuk mengamati realita yang ada, niscaya kita akan menemukan pelajaran-pelajaran dan bukti yang sangat banyak. Bukti yang menunjukkan bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik, di antaranya adalahKisah ibunda Nabi Musa alaihissalam yang menghanyutkan anaknya di atas laut. Lihatlah, kecemasan dan ketakutan yang luar biasa menginggapi saat mengetahui anaknya berada di tangan keluarga raja Fir’aun. Tetapi, tanpa diduga tragedi itu berbuah manis di kemudian hari. [su_spacer]Perhatikan pula dengan seksama kisah hidup Nabi Yusuf alaihissalam, maka kamu akan menemukan bahwa kaidah ini cukup menggambarkan drama mengharukan antara Nabi Yusuf dan sang ayah, Nabi Ya’qub alaihimassalam. [su_spacer]Lihatlah kisah bocah laki-laki yang dibunuh oleh Nabi Khidir alaihissalam atas perintah langsung dari Allah. Apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir itu membuat Nabi Musa alahissalam bertanya-tanya, maka Nabi Khidir pun memberikan jawaban yang kata-katanya diabadikan di dalam al-Qur’ الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا 80 فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا 81“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya.” 80-81. [su_spacer]Renungkan pula kisah Ummu Salamah radhiyallahu anha yang ditinggal wafat oleh suaminya Abu Salamah radhiyallahu anhu. Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata, Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allahإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَاSesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik.’Kecuali Allah akan member gantinya yang lebih baik.’ Ummu Salamah berkata, Ketika Abu Salamah meninggal dunia aka bertanya,’Siapa di antara seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah?! Siapakah penghuni rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah?! Kemudian aku mengucapkan doa di atas. Lalu Allah menggantikannya dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda. HR. Muslim no. 918.Demikianlah Ummu Salamah menjalankan apa yang diperintahkan untuk dilakukan saat menerima musibah; bersabar, membaca istirja’ kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan mengucapkan doa di atas, maka Allah menggantinya dengan yang terbaik, yang tidak ia bayangkan dari semua ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang penyair,[su_note note_color=”deeeff”]عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يَسْعَى إِلَى الْخَيْرِ جُهْدَهُ وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ تَتِمَّ الْمَقَاصِدُSeseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapatkan kebaikanTetapi, ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya[/su_note]Segala sesuatu yang terjadi pada seorang muslim dan hal tersebut tidak sesuai dari apa yang diharapkannya adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya. Ujian itu hadir dengan tujuan menuntut mereka menuju kesempurnaan diri dan kesempurnaan kenikmatan-Nya. Jangan buru-buru mencela musibah yang Allah berikan, yakinlah ketetapan Allah adalah yang juga berfirmanفَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” QS. An-Nisa’ 19.Wallahu A’ bisa memahami takdir dengan benar, baca artikel berikut Takdir Dengan Benar***Referensi Qawa’id Quraniyyah 50 Qa’idatan Quraniyyatan Fin Nafsi wal Hayat. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Dr. Umar bin Abdullah Muqbil. Markaz Tadabbur. Noviyardi Amarullah TarmiziSTAI Ali bin Abi Thalib Surabaya28 Jumadal Ula 1437 / 8 Maret 2016Artikel
allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya